Kali ini gue mau posting Cerpen kedua gue. Kali ini gue ambil dari lagunya Drive-Katakanlah
Ni cerita lahir dari usul temen gue Wulan Purnamasari. Untuk couple nya tetep gue ambil dari anak-anak Idola Cilik. kali ini yang gue pilih adalah Cakka-Sivia. sebenernya ni couple pilihan dari si wulan, kyaknya tuh anak lagi tergila-gila sama Cakka, makanya dia minta kalo couplenya kali ini Cakka-Sivia. Ok cukup sampai disini cerita gue tentang asal usul cerpen kedua gue. dari pada kelamaan mending langsung baca aja deh,!!! cekidot!!!
:::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::
Seakan menahan matahari ‘tuk kembali
Melakukan hal yang tak mungkin
Menelusuri jalan pikiranmu saat ini
Membuat ku tak berhenti berpikir
Apa yang telah berubah sikapmu padaku
Oh adakah yang ku tak pernah tahu
Jika ada sesuatu yang membuatmu gelisah
Yang kau ingin katakanlah
Yang kau mau katakanlah padaku
Tak ingin kau merubah keadaan ini
Aku merindukan kamu yang dulu
Apakah ku harus meninggalkan semua
Kehidupanku semua yang tak kau suka
Apakah ku harus tak lagi menjadi diriku
Ku berikan waktu untuk berpikir
Cara mengatakannya padaku
Ku ingin kau tahu ku takkan berubah
Yang kau ingin katakanlah
Kau mau katakanlah padaku
Kau ingin katakanlah
Kau ingin katakanlah
Tak ingin kau merubah keadaan ini
Aku merindukan kamu yang dulu
Cakka terdiam dikamarnya menikmati suara anji-drive yang mengalun dikamarnya. Lagu yang menggambarkan hatinya saat ini. Ia bingung dengan sikap kekasihnya akhir-akhir ini. Ia merasa kalau Sivia mulai menjauh darinya. Sempat terlintas dipikirannya bahwa Sivia sudah tidak mencintai dirinya lagi. Tapi segera ditepisnya pikiran itu. Ia percaya bahwa Sivia masih mencintainya.
Ia mengambil HaPe nya di meja belajar. Segera di carinya nomor Sivia di hapenya. Ketemu...
Tanpa basa-basi di tekannya tombol hijau di HaPenya, selang beberapa menit, bukan Sivia yang menjawab panggilan tersebut, melainkan “suara mbak-mbak operator”. Segera di putusnya panggilan itu.
“hmm, Via kenapa ya?? Perasaan minggu lalu dia masih biasa aja sama gue, kok akhir-akhir dia berubah ya?” kata Cakka dalam hati
Usahanya nggak berhenti sampai disitu. Ia kembali menghubungi Sivia. Namun kali ini yang terjadi adalah Sivia me-reject panggilannya
“nggak biasanya Sivia nge-reject telpon dari gue” kata Cakka lagi
Akhirnya Cakka kembali membuka di HaPenya. Tujuannya sekarang adalah menu SMS. Yupz!! Jalan terakhir yang di pilihnya adalah SMS,
To : My Princess “Sivia”
Kok telp aq gg d angkat!!
Kenapa???
5 menit, 10 menit, 30 menit, hingga 1 jam. Cakka terus menunggu balasan dari Sivia. Tapi hasilnya..
Nothing!!! Nggak ada satu pun SMS masuk dari Sivia.
Drrtt, drrrt, drrrtt
Tiba-tiba HaPe Cakka bergetar. Segera diraihnya HaPe tersebut, berharap agar yang tertera dilayar tersebut adalah My Princess “Sivia”. Namun raut mukanya langsung berubah begitu melihat nama di layar HaPe tersebut Alvin_”Kodok”.
“heuh, gue kira dari Via” batin Cakka, lalu membaca isi pesan tersebut
From : Alvin_”Kodok”
Bro, besok berangkat pagi.
Ada rapat kilat OSIS, masalah pensi!!
Jangan smpe telat!!
Gue gorok leher lo kalo’ smpe telat....
Nggak berapa lama, Cakka mengetik balasan SMS tersebut.
To : Alvin_”Kodok”
Iye,
Kalo inget ya, bro!!!
Bosan menunggu, Cakka pun akhirnya tidur dengan pikiran yang masih di penuhi oleh pertanyaan tentang perubahan sikap Sivia padanya.
::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::
Pagi hari
Begitu Cakka membuka mata, pikirannya langsung tertuju ke HaPenya. Segera diambil HaPenya itu. Berharap di layarnya terdapat pemberitahuan satu kotak masuk dari Sivia. Tapi hasilnya, layarnya tetap seperti semalam. Ia pun teringat pesan dari Alvin. Sang ketua OSIS yang terkenal disiplin. Tak ingin mendengar ceramah Alvin yang kalo ditulis dapat menjadi sebuah novel best seller, Cakka segera bersiap-siap berangkat sekolah.
Sesampainya disekolah, Cakka segera menuju ruang OSIS. Disana terlihat baru beberapa anggota yang hadir, termasuk Alvin.
“Pagi, Cak” sapa Alvin
Cakka hanya tersenyum menanggapi
“Lesu amat lo hari ini. Udah sarapan belom lo??” tanya Alvin lagi.
“gimana bisa gue nelen makanan, kalo perasaan gue nggak karuan gini! Dari kemaren gue kehilangan kontak ma Sivia” kata Cakka lagi.
Alvin sejenak menghentikan aktifitasnya.
“Yo, tolong gantiin gue nyiapin bahan proposal” perintah Alvin ke Rio
“OK!!” kata Rio. Alvin pun berjalan kemudian duduk disebelah gue.
“Maksud lo tadi apa?? Lo kehilangan kontak ma Sivia?” tanya Alvin lagi
“he’em!! Semalem gue telpon tapi di reject. Gue SMS, boro-boro dibales, langsung dihapus kali sama dia begitu liat tuh sms dari gue” cerita Cakka
“emang lo ada salah apa sama dia??” tanya Alvin lagi
“Haduh, Alvin!!!! Lo tuh odong ya, kalo’ gue tau salah gue apa, nggak mungkinlah gue bingung kayak gini” kata Cakka lagi
“ohh, iya ya!! Hehehe!!! Kenapa lo nggak ngomong langsung aja sama dia. Secara dia kan satu sekolah ma kita” kata Alvin lagi
“Gimana mau ngomong!! ‘rank kalo ngeliat gue aja dia langsung ngehindar. Gue datengin rumahnya, kata pembantunya dia lagi nggak dirumah” curhat gue ke Alvin. Alvin hanya diam mendengar cerita gue
“Vin, gue boleh minta tolong nggak??” tanya Cakka
“Apaan?? Kalo’ gue bisa nolongin, ya gue tolongin” kata Alvin
“lo sama Sivia sepupuan kan, cari tau sih dia kenapa!! Ya, Vin!! Please” mohon gue
“he’uh!! Iya nti gue usahain” kata Alvin
“Makasih, Alvin” kata Cakka sambil mau memeluk Alvin
“weitzzz, nggak pake meluk juga kali!! Gue masih normal kali, Cak” kata Alvin sambil menghindar
“hehehe! Sorry, bro!!!” kata Cakka sambil nyengir kuda #bisa dibayangin seorang Cakka yang sedang nyengir bak seekor kuda
“Jelek lo nyengir gitu, sekarang lo bantuin kita nyiapin proposal buat Pensi tahunan” perintah Alvin
“OK, siap” kata Cakka.
Hari ini seluruh anggota OSIS diberi dispensasi tidak ikut jam pelajaran sampai Istirahat, guna mempersiapkan acara Pensi tahunan. Tahun ini merupakan tahun terakhir mereka disekolah ini, sekaligus terakhir kali Alvin mengemban jabatannya sebagai Ketua OSIS. Maka dari itu, ia ingin Pensi kali ini lain dari tahun-tahun sebelumnya. Akhirnya proposal acara selesai dibuat, tinggal presentasi di depan Kepala Sekolah dan para Wakilnya.
Setelah proses pembuatan proposal itu, mereka kembali mengikuti pelajaran seperti biasanya. Tapi pikiran Cakka tetap tidak bisa berkonsentrasi penuh pada pelajarannya. Pikirannya terus melayang memikirkan tentang sikap Sivia padanya.
Akhirnya penyiksaan siswa hari itu selesai juga seiring dengan berbunyinya lonceng malaikat. Seluruh siswa pun bergegas membereskan alat tulisnya. Termasuk Cakka.
Digerbang sekolah, Cakka melihat Sivia sedang menunggu jemputannya. Cakka menghampirinya, namun ketika jarak antara dirinya dengan Sivia sudah dekat, jemputan Via sudah datang. Dan Sivia segera menaiki mobilnya. Cakka hanya menelan kekecewaannya untuk kesekian kalinya.
^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^
Seorang gadis sedang duduk terdiam di balkon kamarnya menatap lukisan bintang di angkasa. Ia memikirkan kisahnya bersama kekasihnya. Tentang sikapnya akhir-akhir ini. Mungkin terkesan egois memang, tapi menurutnya ini satu-satunya cara untuk membuat kekasihnya berubah. Sejenak pikirannya melayang ke 2 tahun silam
::Flashback on::
Sivia P.O.V
Di minggu pagi disaat matahari belum menampak kan dirinya. Via yang masih memejamkan mata. Samar-samar mendengar HaPe nya bernyanyi. Ia pun meraba meja kecil disamping tempat tidurnya. Dilihat nya nama si Pengganggu itu. Dan yang dilihat nya adalah
Gabriel_Iel’s calling…..
“iya, Yel! Ada apa subuh-subuh nelpon gue?” tanya gue masih dalam keadaan setengah sadar.
“gawat, Vi!” kata Iel panik.
“Gawak kenapa sih, Yel! Jangan bilang kucing lo ngilang. Atau ikan lo ada yang mati lagi!” kata gue masih dalam keaadan setengah mata yang terpejam.
“Elah, Vi! Gue serius! Ini tentang Cakka!!! Dia ngilang” jawab Iel dengan nada yang super duper panik.
“Ya ampun! Gabriel Stevent Damanik sepupunya Cakka Kawekas Nuraga! Lo telpon gue subuh-subuh Cuma mau bilang kalo si Chikka, kucing kesayangan lo ngilang lagi” jawab gue masih nggak konek
“Hah! Denger ya Sivia Azizah sahabatnya sepupu gue! Gue tadi bilang CAKKA, bukan CHIKA!” Tegas Iyel, kali ini dia sukses bikin gue melek seketika.
“HAH! Lo jangan becanda, Yel! Kenapa nggak bilang dari tadi sih! Ya udah gue ke rumah lo sekarang” kata gue cepat sambil memutuskan hubungan telpon. Dan bergegas mengambil kunci mobil.
Baru kali ini Matahari kalah cepet sama gue.
@CakkaIel’s house
“Yel, kok bisa Cakka ngilang? Emang dia tadi pergi kemana sih???” tanya gue begitu Iel membuka pintu
“Kalo gue tau, udah gue susul dari tadi, Vi” jawab Iel ngasal
Gue sama Iel bergegas kekamarnya Cakka. Siapa tau kita bisa menumukan sesuatu untuk mencari Cakka,
Dan ternyata, gue menemukan sepucuk surat di bawah selimutnya. Gue buka itu surat, dan isinya….
“Via, kalo’ kamu udah nemuin surat ini, aku mau kamu temui aku di danau yang ada di deket sekolah. PENTING! Kalo sampe Matahari terbit kamu belum nemuin aku di danau, mungkin kamu nggak akan pernah ngeliat aku lagi untuk SELAMANYA”
Cakka Kawekas Nuraga
Setelah membaca surat itu, Via bergegas ke danau yang dimaksud Cakka dalam suratnya. Sesampainya disana. Via cengok sendiri melihat apa yang ada didepannya.
Cakka berdiri dengan gagah nya. Dia mengenakan kemeja putih yang lengan nya ditekuk sebatas siku dan celana jeans panjang warna senada dengan bajunya serta sepatu hitam.
“Kka…??” tanya sivia memastikan
“Iya, Via! Ini aku” jawabnya sambil meraih tangan gue dalam genggamannya
“Via, pagi ini dengan segala kerendahan diriku, dengan segala kekuranganku, dengan segala kelemahanku. Aku Cakka Kawekas Nuraga mengakui kalau aku telah jatuh cinta padamu Sivia Azizah. Maukan engkau menerima aku untuk menemani hari-harimu, mengisi ruang kosong dihatimu???” Cakka berkata sambil berlutut didepan gue. Gue speechless mendengarnya. Gue tatap matanya, dan gue menemukan ketulusan dan kesungguhan dari matanya. Dan tak ada alasan buat gue untuk menolak semua ini,
“Iya, kka! Aku mau!!” jawab gue mantap sambil tersenyum
“Makasih, Via! Aku janji aku akan selalu jagain kamu, ngelindungin kamu sampe kapan pun! Aku Janji!”kata Cakka lagi, gue hanya tersenyum membalasnya.
::Flash back end::
Sebuah ketukan pintu membawa jiwanya kembali ke dunia nyata.
“Siapa?? Masuk aja, nggak di kunci kok” kata Via
“Maaf non, di depan ada Mas Cakka. Katanya ada yang mau di omongin sama non Via” kata bi Okky
“Hmm, bi, bilangin sama Cakka kalo aku udah tidur karena kecapeaan tadi habis latihan cheers” kata Via
“Baik, non” kata bi Okky lagi sambil menutup pintu kamar Via
Yupz, akhir-akhir ini Via memang lagi menghindari Cakka. Bukan karena ia sudah bosan atau karena ia sudah tidak cinta sama Cakka. Tapi, ada satu hal yang membuat dirinya terpaksa untuk sejenak menjauh dari Cakka. Sebenarya ia tidak tahan sama semua ini. Ia rindu akan sosok Cakka disisinya. Ia rindu hangat pelukan Cakka, Senyum damainya yang selalu membuat dirinya tenang.
Via berjalan menuju meja kecil di samping tempat tidurnya. Ia kemudian meraih sebuah photo, di tatapnya sosok dalam foto itu. Sosok yang selalu membuatnya merasa aman saat didekatnya. Sosok yang selalu ada saat ia butuh tempat bersandar. Sosok yang selalu membantunya bangkit saat ia terjatuh. Sosok yang mampu merubah dirinya yang dulu rapuh dapat menjadi lebih kuat.
“Aku kangen kamu, Kka!! Aku pengen jalan lagi sama kamu, ngabisin waktuku sama kamu. Pergi ke danau pelangi, makan es krim berdua. Nungguin kamu rapat OSIS dadakan. Nemenin kamu latihan basket. Aku kangen semua itu!!!” kata Via sambil menatap dalam foto itu. Perlahan air matanya turun. Setetes air mata jatuh membasahi foto itu. Namun segera dihapusnya air mata itu.
Terdengar suara mobil yang perlahan menjauh. Suara mobil yang sangat Via hafal. Bagaimana bisa ia tidak hafal sama suara mobil. Dulu ia adalah orang selalu berada di dalam mobil itu, menemani pengemudinya sambil mendengarkan musik.
“Maafin aku, kalau bikin kamu kecewa. Aku ngelakuin ini semua juga buat kebaikan kamu, aku mau kamu berubah, kka!!!” kata Via lagi, tatapan matanya tak lepas dari foto yang dipegangnya. Kembali air matanya membasahi foto itu, tapi kali ini ia tidak menghapus air mata itu.
Via pun memeluk foto itu, seakan-akan yang ia peluk saat ini adalah sosok dalam foto tersebut. Ia terus memeluk foto itu hingga ia terlelap.
Pagi harinya, saat Via terbangun, Ia merasa ada sesuatu yang mengganjal di matanya. Hingga ia agak sulit untuk membuka mata. Ia pun merasakan kepalanya sedikit pusing. Untung hari ini adalah hari sabtu, dimana sekolahnya selalu libur pada hari itu. Akhirnya ia pun memaksakan diri untuk bangun dan dengan susah panyah ia berjalan menuju kaca. Via melihat pantulan dirnya di kaca, terlihat matanya sedikit bengkak akibat ia menangis semalam. Sejenak ia duduk didepan meja riasnya, berusaha untuk mengumpulkan energinya. Setelah merasa kuat ia pun bangkit dan segera menuju kamar mandi.
Selang 15 menit kemudian, Via keluar dari kamar mandi. Matanya pun sudah lebih membaik, walaupun belum kembali sepenuhnya. Pusing dikepalanya pun mulai mereda. Ia pun segera meraih HaPe nya buat melihat apakah ada SMS atau misscall. Ternyata seperti pagi” sebelumnya. HaPe nya selalu penuh dengan misscall dan sms dari Cakka. Ia sudah dapat menebak apa isi dari semua SMS yang masuk di hapenya. Isinya selalu saja “Kamu udah tidur belum??”,”Jangan tidur malam-malam! Nggak baik buat kesehatan”, “Kamu disana aman-aman aja kan,??”, “Met tidur sayang! Mimpi indah ya”. Selalu begitu setiap hari, bukannya ia tidak senang atas perhatian yang diberikan Cakka untuknya. Awalnya Via memang senang Cakka memperhatikannya, khawatir akan kondisinya. Tapi lama-lama, Via merasa kalau Cakka terlalu mengekangnya, dan Via tidak suka itu. Itulah mengapa akhir-akhir ini ia menjauhi Cakka. Via ingin cakka sadar kalau ia tidak suka cara Cakka yang terlalu protektif padanya. Via bisa saja langsung bilang ke cakka ketidak sukaannya. Tapi ia paham betul sifat Cakka. Ia akan marah dan akibatnya itu akan membuat Cakka semakin protektif padanya. Akhirnya ia memilih jalan untuk menjauh sejenak dari Cakka, berharap agar Cakka sadar atas semua. Karena ia tahu, kalau Cakka menyadari sendiri kesalahannya, maka ia tidak akan mengulangi kesalahan itu dalam hidupnya.
Setelah melihat semua SMS dari Cakka, yang notaben isinya selalu sama. Via pun turun ke lantai bawah. Ia melihat meja makan, ada seporsi nasi goreng jatahnya, tapi tidak ia sentuh sama sekali. Ia juga melihat bi Okky sedang menyapu halaman belakang rumah. Ia pun menuju gazebo yang terletak di pinggir kolam renang pribadinya.
“bi, kok sepi banget!! Pada kemana sih???” tanya gue
“ibu sama bapak barusan berangkat ke Bandara, katanya mau ke singapura. Kalau mas Deva, tadi ijin mau kerumahnya mas Ray” jawab bi Okky sambil terus menyapu.
Gue hanya manggut-mangut mendengar jawaban bi Okky.
Nggak lama berselang terdengar suara motor yang memasuki halaman depan rumah via. Via pun segera pergi keluar untuk melihat siapa yang datang. Ternyata yang datng adalah Alvin, sepupunya.
“Hai, Vi!!!” sapa Alvin
“Hai juga, tumben lo kesini kak!!” balas gue
“Ohh, jadi gue nggak boleh maen kesini” kata Alvin lagi sambil masuk kedalam rumah Via. Alvin sudah sering maen ke rumah Via, jadi ia bisa dengan bebas keluar masuk rumah Via
“Yaa, nggak gitu juga!!! Kan udah lama lo nggak kesini, eh tiba-tiba nongol gitu aja” jawab Via sambil mengikuti alvin memasuki rumah
“bete gue dirumah, bokap sibuk sama bisnisnya, oma sibuk sama butiknya, ce’tasya ma ce’ nia sibuk sama tugas-tugas sekolah. Ya udah deh, dari pada gue bengong dirumah, gue kesini aj!!!” jelas Alvin
“Ohh, kalo gitu kita samaan donk!! Gue juga sendirian dirumah, yang laen pada pergi semua” kata Via lagi.
“Vi, bi Okky masak apa hari ini??” tanya Alvin sambil melihat isi meja makan
“itu tuh masih ada seporsi nasi goreng, sebenernya sih jatah gue. Tapi gue lagi males makan” kata Via sambil meraih remote TV
Alvin pun mengambil nasi goreng tersebut, dan duduk di sebelah Sivia. Keduanya pun terdiam, asik pada kegiatannya masing-masing. Sivia asik menonton acara favoritnya, sementara Alvin asik sama sepiring nasi gorengnya. Tak lama kemudian, piring yang tadinya terisi penuh nasi goreng, kini habis tak tersisa.
“Huahhh, kenyang, vi!!! Enak banget nasi gorengnya!! Tangkyuu ya!!!” kata Alvin setelah ia kembali dari dapur.
“ckckckck, lo gg dikasih makan berapa taon sih kak!!! Cepet banget makannya” kata Via
“hehehehe. Habis enak sih nasi gorengnya” kata Alvin lagi, kini ia sudah duduk di samping Sivia dan ikut menikmati acara TV.
“Vi, lo sama Cakka lagi ada masalah ya??” tanya Alvin hati-hati.
Via hanya diam, seolah-olah ia tidak mendengar pertanyaan Alvin.
“Vi, hello!! Viaaa” panggil Alvin lagi sambil mengibaskan tangannya didepan muka Via, seketika Via terlonjak
“Ehh, ia Vin, kenapa?? Lo tadi tanya apa??” tanya Via kaget
“heuh, lo lagi ada masalah ya sama Cakka” tanya Alvin lagi
“....” Via hanya terdiam. Alvin tau, kalau Via ditanya dan ia hanya diam, tandanya benar.
“lo bisa cerita sama gue apa masalah lo sama Cakka, dan gue akan bantu semampu gue” kata Alvin lagi.
Tanpa tawar-menawar Via pun cerita ke Alvin kenapa ia menjauh dari Cakka. Alvin yang sudah mengenal via sejak bayi, mengerti akar masalahnya. Via orangnya memamg tidak suka dikekang.
“Trus sampe kapan lo mau ngejauh dari Cakka??” tanya Alvin setelah Via selesai menumpahkan sedikit beban dihatinya
“sampe dia sadar kalo selama ini sikap dia ke aku itu salah” kata Via
“sekarang gue tanya sama lo, kalo misalnya Cakka nggak sadar-sadar sama kesalahannya, apa lo mau kayak gini terus??? Tadi lo sendiri yang bilang, kalo lo sebenernya cinta mati sama Cakka” tanya Alvin lagi
“....” lagi-lagi Via hanya terdiam mendengar pertanyaan Alvin
“heuh, lo pikirin baik-baik lagi deh rencana lo ini. Tapi gue saranin, lebih baik lo udahin semua permainan ini. Lebih baik lo ngomong langsung sama Cakka, lo jelasin semuanya. Gue kasian sama lo berdua, kalo kayak gini terus, yang ada lo berdua sama-sama tertekan” kata Alvin lagi. Sepintas ia melihat jam dinding di ruangan itu.
“vi, gue harus balik sekarang!!! Gue ada janji sama Shilla!! Inget kata gue tadi ya!! Pikirin lagi rencana lo ini” kata Alvin lagi sambil bangun dan berjalan keluar rumah.
Sepeninggalan Alvin, via hanya terdiam memikirkan kata-kata Alvin tadi. Setelah dipikir-pikir kata-kata Alvin tadi ada benernya juga. Ia tidak bisa terus menjauh dari Cakka.
Seminggu kemudian....
Hari ini tepat 2 tahun hubungan Cakka dan Via terjalin, dan tepat 2 bulan Via menjauh dari Cakka. Sepertinya Cakka pun sudah menyerah dan pasrah. Ia terima apapun yang menjadi keputusan Via.
Malam ini langit menyuguhkan lukisan bintang yang sangat sempurna, bulan pun memberikan senyum terindahnya, dan angin membisikkan nyanyian penyejuk hati.
Sivia terlihat sangat anggun dengan dress merah marun dengan pita besar di bagian belakang. Rambutnya dibiarkan terurai berhiaskan bandana putih.
Cakka hanya melihat Via dari kejauhan, karena ia tahu kalau ia mendekat, Via pasti akan menghindar darinya.
Akhirnya acara belangsung beberapa siswa pun menampilkan bakat yang mereka miliki. Akhirnya tiba juga giliran anggota inti OSIS mempersembahkan penampilan mereka.
Kali ini mereka akan tambil dalam sebuah grup band yang bernama Venus. Semua sudah siap pada posisi masing-masing. Riko di drum, Rio d bass, Gabriel di keyboard, Alvin di lead Gitar, dan Cakka pada Vokal sekaligus Gitar
“Selamat malam semuanya” Cakka mulai menyapa siswa yang hadir
“Ok, kali ini kami da Venus band, ingin mempersembahkan sebuah lagu yang gue persembahkan spesial buat seseorang yang selalu ad di hati gue. Sivia Azizah, lagu ini buat kamu sayang” kata Cakka
Petikan gitar alvin mengalir lembut, mereka sengaja membawa lagu ini secara Akustik. Karena mereka ingin memberikan warna yang berbeda dari penyanyi aslinya.
Seakan menahan matahari ‘tuk kembali
Melakukan hal yang tak mungkin
Menelusuri jalan pikiranmu saat ini
Membuat ku tak berhenti berpikir
Deegg, Sivia terdiam begitu mendengar irama yang dinyanyikan oleh Cakka. Lagu itu begitu memojokkannya. Via berusaha menenangkan hatinya.
Apa yang telah berubah sikapmu padaku
Oh adakah yang ku tak pernah tahu
Jika ada sesuatu yang membuatmu gelisah
Sivia semakin tidak dapat menguasai hatinya. Cakka pintar sekali memilih lagu yang sangat pas dengan kondisi hubungan mereka saat ini.sepintas Via melihat, tatapan mata Cakka terus melihat kearah dirinya.
Yang kau ingin katakanlah
Yang kau mau katakanlah padaku
Tak ingin kau merubah keadaan ini
Aku merindukan kamu yang dulu
“Mungkin aku harus mengatakan semuanya, aku nggak sanggup lagi kalo terus seperti ini. Ya, qu harus mengatakan semuanya” tekat Via dalam hati
Apakah ku harus meninggalkan semua
Kehidupanku semua yang tak kau suka
Apakah ku harus tak lagi menjadi diriku
“Maafkan aku, karena aku menginginkanmu untuk menjadi orang lain” kata hati Via lagi. Ia masih belum berani menatap Cakka.
Ku berikan waktu untuk berpikir
Cara mengatakannya padaku
Ku ingin kau tahu ku takkan berubah
“Iy, aku tahhu. Tak seharusnya aku menginkan kamu untuk menjadi sosok yang aku inginkan. Seharusnya aku bisa menerima apa adanya kamu. Maafkan aku” hati Via kembali menggumam, kali ini ia mulai berani mengangkat wajahnya yg dari tadi tertunduk.
Yang kau ingin katakanlah
Kau mau katakanlah padaku
Sebuah senyum terpeta di wajah cantik Sivia. Cakka yang melihat hal itu terkejut. Via tersenyum kearahnya. Itu artinya Via sudah tidak marah lagi padanya.
Kau ingin katakanlah
Kau ingin katakanlah
Tak ingin kau merubah keadaan ini
Aku merindukan kamu yang dulu
Penampilan mereka ditutup dengan sebuah petikan gitar yang sangat manis oleh Alvin. Perlahan Cakka dan yang lainnya turun dari panggung, dan berbaur dengan siswa lainnya.
Perlahan Sivia berjalan mendekati Cakka.
“kka,,,,” panggil Sivia pelan sambil meneput pelan bahu Cakka. Reflek Cakka berbalik untuk melihat siapa yang memanggilnya.
“Via....” ujar Cakka. Dari nada bicaranya terlihat sekali kalo dia bahagia banget Via mau menyapanya
“ehhmm, ada yang mau aku omongin berdua sama kamu. Bisa minta waktunya bentar??” tanya Via lagi
“Ohh, iy!! Bisa!!!” kata Cakka lagi.
Akhrnya mereka berdua berjalan memisahkan diri dari yang lainnya. Smapi akhirnya mereka tiba di taman sekolah.
“kka, aku mau minta maaf sama kamu karena akhir-akhir ini aku ngejauhin kamu” Via memulai pembicaraan
“aku nggak marah kok sama kamu, kamu udh mau ngomong dan nyapa aku lagi, aku udah seneng banget” kata Cakka lagi. Ntah mengapa ucapan Cakka tadi membuat rasa bersalah Via semakin besar.
“kamu mau tau apa alasan aku ngejauhin kamu kemaren??” tanya Via lagi.
“aku udah tau kok. Pasti karena perhatian aku yang terlalu berlebihan ke kamu, iya kan??” tebak Cakka.
Via heran, ‘kenapa jawaban Cakka bisa tepat 100%. Apa Alvin yang udah menceritakan semuanya ke Cakka??” pikir Via
“nggak usah heran, Vi!!! Ternyata hal yang selama ini aku takutin terjadi juga! Kamu marah sama aku karena aku terlalu protect sama kamu” kata Cakka seolah bisa membaca apa yang di pikirkan Via
“maaf, kka!! Bukannya aku nggak suka kamu perhatian sama aku. Tapi aku nggak suka, kalo hampir setiap menit kamu selalu sms tnya aku lagi apa, sama siapa. Seakan-akan kamu nggak percaya sama aku” akhirnya keluar juga apa yang dari dulu dipendam oleh Via.
“iy, aq ngerti. Aku janji mulai sekarang aku janji akan lebih bisa mengontrol frekuensi sms aq ke kamu. Karena aku nggak mau kamu menjauh dari aku” kata Cakka sambil menggenggam tangan Via.
Akhirnya cinta sejati Sivia ke Cakka dapat mengalahkan keegoisan dalam diri Sivia. Ia pun sadar bahwa kita hidup didunia bukan untuk mencintai sesorang yang sempurna, tapi kita ada didunia untuk mencintai seseorang yang tidak sempurna dengan cara yang sempurna.
_END_









