Di pagi hari yang cerah. Seorang anak laki-laki berwajah oriental terlihat sedang bersiap-siap untuk memulai harinya. Ketika pria itu hendak melajukan motornya ada sebuah suara yang memanggil namanya.
“Alvin...” Panggil seorang gadis berkulit putih, berambut panjang, dan berwajah oriental, serta memakai seragam yang sama seperti yang ia kenakan.
“Eh, Via!!” balas laki-laki itu sambil menghampiri gadis yang memanggilnya tadi.
“Mau berangkat sekolah ya??” tanya gadis itu lagi.
“Nggak, gue mau macul di sawah” balasnya lagi
“Ih, ditanyain serius, malah ngelawak” ujar gadis itu lagi
“Habisnya elo aneh, udah tau gue pake seragam gini, masih juga ditanya, mau berangkat sekolah ya” balasnya lagi
“Gue nebeng ya!!!” pinta gadis itu lagi
“Heuh, males!! Berangkat sendiri sono!!” kata cowo’ itu lagi sambil menaiki kembali motornya.
“Ih, ya udah deh!! Kalo lo nggak mau nebengin! Gue berangkat bareng Rio aja” Ucap gadis itu lagi sambil pura-pura jalan ke arah Rio, sepupu Alvin.
“Eh, eh... iya, iya. Elo bareng gue! Buruan” kata Alvin sambil menahan tangan Via
Via pun naik ke boncengan motor Alvin. Tak lama kemudian motornya pun sudah bersatu dengan hiruk pikuk khas ibukota di pagi hari.
“thax ya, Vin” ujar Via begitu sampai di sekolah.
“he’em” balas Alvin singkat sambil melepas helm fullfacenya
“Ish, kok jawabannya kaya’ nggak ikhlas gitu sih” kata Via cemberut
“....” Alvin hanya diam.
“Heuh, ya udah deh! Kalo’ gitu mulai besok, gue berangkat sama pulang sekolah bareng Rio aja” kata Via.
“Lo berangkat sama pulang sekolah sama Rio, sama aja nyuruh gue sama Ify bunuh diri” ancam Alvin. Via jadi ngeri ngeliatnya, tapi sesaat kemudian dia tersenyum.
“Karena gue sayang sama elo” ucap Alvin sambil mengacak-acak rambut Via, lalu pergi meninggalkan Via
“Alviiiinnn, rambut gue berantakan” teriak Via, tapi Alvin tetap berlalu, seolah-olah tidak mendengar teriakan Via.
^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^
Dikelas, Via tidak dapat berkonsentrasi penuh pada pelajaran yang ia terima. Dia terus memikirkan hari-hari yang telah ia lalui bersama kekasih hatinya, Alvin. Namun ia kini sedang dihadapkan pada pilihan yang sulit. Kemarin ayahnya memintanya untuk pindah dan meneruskan sekolahnya di London. Sekaligus membantu ayahnya mengurusi perusahaan mereka yang ada di sana.
Via bingung, mana yang harus ia pilih. Antara cintanya atau keinginan ayahnya. Ia sendiri sebenarnya tidak berminat untuk terjun dalam dunia bisnis seperti keinginan ayahnya. Tapi ia juga tidak ingin membuat ayahnya kecewa. Selama ini, ayahnyalah yang selalu menemaninya setelah bundanya pergi ke surga. Yah, walaupun ayahnya harus bolak-balik London-Indonesia, sebuah jarak yang sangat tidak dekat.
Akhirnya ia memutuskan untuk memenuhi keinginan ayahnya. Dan itu artinya ia harus mengakhiri kisahnya bersama Alvin. Ia berniat menceritakan hal ini pada Alvin sepulang sekolah nanti. Ia sudah siap akan semua konsekuensinya. Termasuk kemarahan Alvin atas keputusannya.
Akhirnya suara lonceng malaikat yang dinanti-nantikan pun berbunyi. Via segera membereskan buku dan alat tulisnya. Ketika ia sedang membereskan alat tulisnya. Tiba-tiba Alvin sudah muncul di depan pintu kelasnya.
“Via, lo mau pulang nggak?? Kalo’ nggak gue tinggal nih” ujar Alvin
“Iya, sabar! Bawel amat sih!” balas Via sambil menyampirkan tasnya
Dijalan menuju parkiran, Via membulatkan tekatnya untuk memberitahu Alvin tentang keputusannya. Alvin sendiri heran melihat kekasihnya yang biasanya ceria dan cerewet berubah menjadi diam seperti ini. Tapi Alvin diam saja, tidak bertanya pada Via apa yang terjadi, karena ia yakin suatu saat Via pasti akan cerita dengan sendirinya.
“Alvin, ke taman angsa yuk!!” ajak Via ditengah perjalanan
“Heh, kok tumben kamu ngajak kesana??” tanya Alvin heran
“Yahh, nggak pa-pa sih!! Cuma kangen aja sama tempat itu, lagian kan udah lama juga nggak kesana” jawab Via
“Ehmm, iya juga sih. Ya udah deh, aku anter kamu kesana sekarang” Jawab Alvin.
Alvin pun kemudian membelokkan motornya ke arah taman angsa.
^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^
Sesampainya di taman, mereka pun duduk di tepi danau. Alvin dan Via sama-sama melihat kearah sepasang angsa yang berada di tengah-tengah danau.
Pikiran Via tiba-tiba kembali ke kejadian 2 tahun yang lalu. Di tempat ini kisahnya dan Alvin dimulai. Di tempat ini pula, dirinya dan Alvin sering menghabiskan waktu berdua. Dan sekarang, di tempat ini pula ia akan mengakhiri kisahnya bersama Alvin.
“Alvin” panggil Via memecahkan keheningan
“hmm” balas Alvin
“Kalo’ misalnya aku pergi dalam waktu yang lama dan tidak bisa dipastikan. Apa kamu sanggup untuk terus tersenyum dan tetap semangat menjalani hidupmu??” tanya Via
“Aku nggak bisa janji. may be yes, may be no” jawab Alvin santai.
“Alvin, jawab! Sanggup atau nggak?” paksa Via sambil menghadapkan wajah Alvin ke hadapannya.
“Heuh, OK kalo’ kamu mau tahu!! Aku sayang sama kamu! Jadi walaupun kamu pergi aku akan tetap jaga rasa ini sampai kapan pun” jawab Alvin sambil menatap dalam ke mata Via
“Tapi sayangnya aku nggak bisa, Vin” jawab Via.
“Maksud kamu??” tanya Alvin
“Sudah saatnya kamu tau semuanya” balas Via.
Via pun menceritakan semuanya pada Alvin. Mulai dari permintaan ayahnya, kebimbangan hatinya, sampai pada keputusannya.
“Jadi itu keputusan kamu!! Tapi kan nggak harus putus, vi. Kita kan bisa LDR! Aku akan nunggu kamu sampai kapanpun” Alvin berusaha mempertahankan hubungan mereka.
“Tapi aku nggak bisa, Alvin! Lagian kan aku belum tau, aku akan pergi sampai kapan! Bisa aja aku akan menetap di sana untuk selamanya. Aku nggak mau bikin kamu nunggu sesuatu yang belum pasti” Via berusaha menjelaskan pada Alvin alasan tentang keputusannya.
Alvin hanya terdiam mendengar kata-kata yang keluar dari bibir perempuan yang sangat ia cintai. Ia tidak dapat membayangkan hari-harinya kelak tanpa Via disisinya. Selama ini, hanya Via lah yang mampu membuatnya bangkit dari keterpurukan karena kehilangan sang mama. Hanya Via yang mengerti perasaannya saat sang mama meninggalkannya. Karena Via pun pernah merasakan bagaimana rasanya kehilangan sosok mama untuk selamanya. Tapi, kini Via hendak pergi darinya. Haruskah ia merasakan kehilangan untuk yang kedua kalinya.
“Aku sayang sama kamu” kata Alvin setelah lama terdiam
“Aku juga sayang sama kamu, Alvin. Sejujurnya aku juga berat ninggalin kamu. Ninggalin semua kenangan indah kita. Tapi, aku nggak mau bikin ayah kecewa” lagi-lagi Via berusaha meyakini Alvin.
“Kalau itu memang sudah jadi keputusan kamu. Aku nggak bisa berbuat apa-apa. Aku terima kisah kita berakhir. Di tempat ini kita memulai semuanya dan ditempat ini pula kita mengakhiri semuanya” Ucap Alvin. Akhirnya ia bisa menerima apa yang telah menjadi keputusan Via.
“Makasih kamu udah mau ngertiin aku, dan hargai keputusan aku’ jawab Via, setengah mati ia menahan air matanya yang siap terjun bebas kapan pun.
“Tapi gue ada satu permintaan sama elo. Ijinin gue buat meluk elo kali ini” pinta Alvin sambil menunduk.
Sama seperti Via, ia pun setengah mati menahan air matanya yang siap tumpah kapan pun. Tanpa menjawab pertanyaan Alvin, Via pun memeluk Alvin. Alvin pun membalas pelukan Via erat, seakan-akan tidak rela bila Via pergi dari sisinya.
“Gue sayang sama elo” lagi-lagi Alvin mengucapkan empat kata itu tepat di telinga Via.
Hanya empat kata, tapi itu membuat air mata yang susah payah Via tahan berebut ingin keluar.
“Gue juga sayang sama elo, Alvin” kata Via ditengah-tengah tangisnya.
Tanpa disadari Alvin, air mata yang susah payah ia tahan mulai menganak sungai. Menyadari hal itu, Jona semakin mempererat pelukannya. Ia tidak ingin gadisnya melihat dirinya menangis. Karena hal itu hanya akan membuat gadisnya sedih dan ia tidak mau hal itu terjadi.
Lama mereka terdiam. Membiarkan air mata mereka berlomba untuk keluar. Kalau boleh meminta. Mereka ingin waktu berhenti saat itu juga. Perlahan Alvin melepas pelukannya pada Via. Ia masih dapat melihat air mata Via yang terus mengalir. Perlahan diusapnya air mata itu sebagai tanda bahwa ia tak ingin melihat Via menangis.
“Kamu aneh tau nggak. Kenapa jadi kamu yang nangis. Kan harusnya aku yang nangis” Jona berusaha mencairkan suasana.
Via hanya tersenyum kecil mendengarnya. Perlahan-lahan tangisnya mulai berhenti. Jona tersenyum melihat gadisnya mulai bisa mengendalikan kerja kelenjar air matanya
“Via, makasih ya atas semua kenangan indah yang udah kamu tulis di hati aku selama 2 tahun ini. Asal kamu tau, buat aku hanya ada 3 wanita terindah di dunia ini, yaitu Mama, Oma, dan kamu” kata Natahan. Via hanya tersenyum mendengar kata-kata Alvin
^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^
Hari yang tidak diingin-inginkan Alvin akhirnya tiba juga. Hari di mana ia harus melepas perempuannya pergi. Sesaat sebelum Via pergi, Alvin memeluk Via untuk terakhir kalinya. Mereka hanya terdiam dan membiarkan waktu terus berlalu. Jika dapat meminta, mereka ingin meminta agar tidak ada hari ini, hari dimana mereka harus berpisah.
“Via, kau adalah yang terindah dan sampai kapan pun akan selalu terindah” kata Alvin sesaat sebelum Via memasuki Bandara. Via hanya tersenyum, tapi bukan senyum kebahagian, melainkan sebuah senyum yang terlihat sangat di paksakan.
“Selamat jalan kekasihku. Lanjutkan mimpimu disana. Aku akan selalu mendukungmu walau jarak memisahkan kita. Selamat jalan kasih. Selamat tinggal mantan terindahku” kata Alvin dalam hati, seiring dengan berlalunya pesawat yang dinaiki Via. Pesawat yang membawa kenangan indahnya pergi untuk melanjutkan mimpi.
_END_
::Mantan Terindah:: -cerpen-
Langganan:
Posting Komentar (Atom)





0 komentar:
Posting Komentar